Senin, 07 Desember 2015

Percobaan TEKANAN HIDROSTATIK


LAPORAN EKSPLOR ALAT
Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Laboratorium Fisika Sekolah I
Dosen Pengampu: Irma Rahma Suwarma, S.Si., M. Pd., Ph. D.


disusun oleh:

Citra Septiani Lestari              1301067
Ida Rachmawati                      1304275
Novia Suci Lestari                  1304963
Sarah Nadaipah                       1300699


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015

A.    Judul Eksperimen: Tekanan Hidrostatik
B.     Tujuan: Menyelidiki pengaruh kedalaman terhadap tekanan hidrostatik
C.     Alat dan Bahan:
No. Kat
Nama Alat/Bahan
Jumlah
FME 51.01/01
Dasar statif
2
FME 51.03/03
Batang statif pendek
1
FME 51.04/04
Batang statif panjang
2
FME 51.05/05
Balok pendukung
2
FSP 11.11/53A
Pelacak tekanan
2
FPA 12.10/51
Selang silikon
1
FSC 7
Tabung berpancuran
1
FSP 11/05/43
Selang plastik transparan
1
FSP 11.18/138
Siring 50ml
1

Air
Secukupnya

D.    Prosedur:
1.      Menyusun alat dan bahan sesuai pada gambar
 

2.      Mengisi air pada tabung berpancuran hingga batas pancuran
3.   Mengisi air pada selang u yang terdapat pada pelacak tekanan 1, sampai di skala 5 di kedua sisi selang u menggunakan siring.
4.      Menyelupkan pelacak tekanan 2 pada tabung berpancuran sedalam 2 cm
5.   Melihat adanya perbedaan ketinggian pada selang manometer u yang terdapat pada pelacak tekanan 1
6.      Mencatat data perbedaan ketinggian yang terlihat pada manometer u
7.      Mengulangi langkah 4-6 untuk kedalaman pelacak tekanan 4 cm dan 6 cm
8.      Mengulangi langkah 4-7 untuk posisi selang yang berbeda  pada pelacak tekanan 2
Posisi selang yang berbeda:

E.     Data:
Pelaksanaan percobaan: Selasa, 13 Oktober 2015
Waktu percobaan: 08.43-09.10 WIB
No
Posisi jung selang
pada Manometer U
Kedalaman 2 cm
Kedalaman 4 cm
Kedalaman 6 cm
1
A
1,3
2,2
3,7
2
B
1,2
2,7
3,8
3
C
1,9
3,1
4,3
4
D
1,7
3,1
4,5
5
E
3,5
4,5
5,8
6
F
3,5
4,8
6,2

F.      Analisis
1.      Data
Setelah melakukan percobaan didapatkan hasil bahwa pada posisi manapun semakin dalam pelacak dicelupkan kedalam air, akan terjadi perbedaan ketinggian semakin besar pada pelacak tekanan manometer u. Jadi kami dapat menyimpulkan bahwa semakin dalam benda dicelupkan kedalam air, benda tersebut akan mengalami tekanan hidrostatik yang semakin besar juga.
Pada posisi selang yang berbeda-beda, dengan kedalaman yang sama, kami tidak dapat menentukan tekanan hidrostatik yang sama, hanya saja dengan posisi ketinggian selang yang mirip (hanya berbeda letak kiri-kanan) seperti AB, CD, EF, tekanan hidrostatik yang dialami hampir sama.
2.      Eksperimen

Dalam pelaksanaan eksperimen ini kami tidak menggunakan selang transparan, karena kesulitan membentuk manometer u, sehingga kami hanya menggunakan selang silikon yang mudah dibentuk. Meskipun begitu, masih terdapat kesulitan juga dalam membentuk manometer u menggunakan selang silikon, pada selang u yang dibentuk tidak benar benar sempurna berbentuk u, karena pelacak tekanan memiliki lebar yang tidak cukup lebar, selang silikon pada posisi  u terjadi penyempitan, hal ini dapat menyebabkan ketidakakuratan data dalam menyelidiki perbedaan ketinggian yang terjadi pada manometer u.


Daftar Pustaka:
Modul Laboratorium Fisika Sekolah I, Pudak

Senin, 30 November 2015

Usaha dan Energi

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Assalamu'alaikum, sahabat fisika ^^
kali ini saya akan menshare suatu media pembelajaran fisika, dengan materi Usaha dan Energi..
pada media pembelajaran ini akan dibahas jenia-jenis usaha, dan energi serta animasinya.
semoga dapat dipahami dan bermanfaat yaa..

Baca Materi Usaha dan Energi, klik disini

Kamis, 23 Juli 2015

Cafe Ruby - Part 1



Criiiiing!!!
“Selamat datang nona, meja untuk berapa orang?” Sambut seorang pelayan lelaki dalam kafe yang dipenuhi oleh mayoritas kaum hawa itu.

“Ngg.. Ngg.. Hmm.. Untuk satu orang.” Ucap gadis itu malu-malu setelah sadar akan lamunan akibat terpesona pada si pelayan yang tampan ga ketulungan.

“Baik, mari saya antar.” Ucap si pelayan dengan sopan sambil mengantar pelanggannya menuju meja yang dibutuhkan. Setelah si nona duduk dengan nyaman, iya tanyakan pesanan dan pamit dengan sopan menuju ke dapur, untuk menyerahkan pesanannya pada para koki.

Dalam kafe itu semua pelanggan dimanjakan dengan suasana kafe yang bernuansa inggris jaman 80an, baik itu dekorasinya, lantunan musik jazz, hidangannya, dan yang paling mendukung adalah para pegawai dan pelayan kafe ini berbusana bagai para buttler bangsawan. Ini lah yang membuat kafe ini begitu populer di kota kembang ini. Sebenarnya bukan hanya itu sih, ada daya tarik sendiri yang lebih menarik dari sekadar suasana dan hidangan yang begitu nikmat, daya tarik itu adalah bahwa para pegawai dan pelayan di kafe itu entah memang disengaja atau tidak adalah bahwa mereka adalah pemuda-pemuda tampan yang mempesona. Alasan itulah yang membuat kafe ini didatangi oleh mayoritas wanita, ntah memang mereka nyaman, atau ada niatan tersembunyi. Haha.

“Sultan! 1 jus strawberry dan 1 porsi spagheti vegetarian untuk meja 5!” teriak Rei dari pintu dapur, sambil menghampiri Sultan sang kepala koki kafe.

“Tomi tanganin pesanan Rei, aku masih mengurus pesanan meja 2.” Ucap sultan pada Tomi, rekan kerjanya di dapur kafe ini.

“Baik Sultan! Duuh kemana sih si Ken? Di saat kafe rame gini dia malah ngilang.” Keluh Tomi, sambil mulai menyiapkan pesanan.

“Sudah jangan banyak mengeluh, mungkin dia sedang ada urusan. Husnudzan aja.” Kata Sultan dengan tenang, meski sebenernya dia pun bertanya-tanya atas ketidakhadiran Ken, disaat sibuk seperti ini.

“Dion, pesanan meja 2 sudah siap!” Teriak sultan sambil melongok dari lubang yang menjadi penghubung dapur dan kasir, untuk informasi pesanan sekaligus menyerahkan pesanan yang sudah siap.

“Oke, Thanks!” ucap Dion tanpa ekspresi sambil ia menyerahkan pesanan tersebut ke meja pelanggan yang dituju, dengan ekspresi yang sama, dingin. Namun dengan wajah tanpan dan ekspresi dingin itu malah membuat dia mempunyai paling banyak penggemar yang anggotanya merupakan para pelanggan wanita kafe itu.

Phaaats..!!! 
Tiba-tiba seluruh ruangn gelap gulita. Teriakan dan suara-suara heran mulai meramaikan suasan dalam ruangan tamu kafe tersebut.

“Hadiri Sekaliaan!! Kami persembahkan penampilan dari The Ritme!!!” ucap seseorang dari balik gelap gulita, dan tiba-tiba menyalalah lampu panggung, memperlihatkan sosok-sosok yang dinamakan The Ritme. Tiga orang diatas panggung dengan memegang gitar, dan microfon. Sedetik kemudian muncul lah teriakan-teriakan heboh dari para tamu kafe.

“Kyaaa.. Keeen”

“Tatsuyaaaaa!!”

“Neooooo”

Mendengar nama Ken diteriakan, otomatis Tomi melongok keluar dapur dan menggrutu jengkel.  “Keeen, dasar kau, di saat seperti ini dia malah ikut perform.”

Ken yang merasa diliatin cuman melambaikan tangan ke arah Tomi sambil nyengir, yang otomatis banyak para tamu keGRan.

“Selamat siang, para pelanggan Kafe Ruby.  Disini kami hendak membawakan sebuah lagu yang semoga dapat menghibur hari anda semua, persembahan sabuah lagu yang dipopulerkan oleh Westlife, More than words selamat menikmati.” Ucap Tatsuya sang vokalis The Ritme.


Saying I love you,
Is not the words,
I want to hear from you,
It's not that I want you,
Not to say but if you only knew,
How easy,
it would be to show me how you feel,

More than words,
is all you have to do,
to make it real,
Then you wouldn't have to say,
that you love me,
Cause I'd already know,

What would you do,
if my heart was torn in two,

More than words to show you feel,
That your love for me is real,
What would you say,
if I took those words away,
Then you couldn't make things new,
Just by saying I love you,

It's more than words,
It's more than what you say,
It's the things you do,
oh yeah,

Now that I've tried to,
talk to you and make you understand,
All you have to do,
is close your eyes,
And just reach out your hands,
and touch me,
Hold me close don't ever let me go,

More than words,
is all I ever needed you to show,
Then you wouldn't have to say,
that you love me,
Cause I'd already know,
Top of Form

Tepuk tangan para tamu menandai selesainya penampilan dari The Ritme, merekapun turun panggung dan digantikan dengan instrumen piano sampai waktu tutup kafe.

“Alhamdulillaah.. akhirnya selesai juga hari inii..” Seru Rei dengan lega, sambil meluruskan kakinya yang dari tadi hilir mudik mengantar pesanan, diatas sofa kafe yang sudah kosong dari 10 menit yang lalu.

“Hari yang benar-benar melelahkan, penuh sekali kafe di hari sabtu dan minggu, malah dihari minggu ini lebih ramai dibanding kemaren. Pesanannya banyak yang sulit tepat waktu, mungkin kita harus mencari koki lain.” Ucap Tomi yang direspon senyuman dari Sultan yang mengerti maksud sindirannya.

“Haha Tomii maafkan aku, aku perlu sedikit latihan karena sudah lama tidak punya kesempatan untuk perform, dan Tatsuya kemarin mengajakku untuk perform, masa aku tolak. Lagi pula setelah perform aku kan langsung membantu kalian di dapur.” Bela Ken sambil memasang muka merasa bersalah dihadapan Tomi.

“Jangan bawa-bawa namaku Ken! Kau sendiri yang menawarkan diri.” Elak Tatsuya, yang disusul oleh tawa yang lain.

“Tsuya! Jangan buka Kartu doong. Haha. Habis kalau di dapur terus aku tak akan eksis seperti Dion dan Neo, yang menduduki peringkat 1 dan 2 terpopuler kafe ini.” Yang disebut menoleh dengan ekspresi datar.

“Ooooh jadi begitu toh Ken, Hmmm.. ada niat terselubung rupanya.” Kata Sultan pura-pura tersinggung, yang disinggung pura-pura mohon ampun lagi.

“Hahaha, ‘Afwan Ustadz, ane cuman bercanda. ‘afwaaan.. Udah ah ane mau pulang duluan tugas ane belum rampung. Duluan yaaa. Assalamu’alaykum!” Kata Ken sambil mengambil tasnya dan langsung pergi sebelum kena amukan masal.

“Dasar Ken, kalau udah gitu kabur aja ya, bantu beres beres dulu napa?!” Keluh Tomi lagi.

“Udah ah, jangan ngeluh terus, hayo cepet beres beres. Biar cepet pulang nih. Hei Rei! Bangun, jangan tidur di sini, bantuin kita-kita dulu!” Intruksi Sultan yang langsung dituruti oleh yang lain.

“Ah iya! ‘afwan ane capek banget berdiri mulu, cuman selonjoran eh malah ketiduran, eh si Ken mana?” Ucap Rei Sambil celingak celinguk mencari Ken.

“Dia udah pulang” Jawab Neo singkat.

“Diih pulang? Apa-apaan dia? Datang paling telat, pulang paling cepet.!” Gerutu Rei sambil mengambil sapu.

“Udah Rei, biarin toh dia udah pergi. Cepet beresin aja, biar cepet pulang. Tugas-tugas ane belum beres nih.” Kali ini Dion yang bersuara untuk membungkam Rei yang kalau ga dari sekarang dihentikan bakalan terus ngoceh.

“Iyaa iyaa, Mr. Cool.” Jawab Rei yang langsung dibalas dengan tatapan mematikan. Haha.


*****

Tepat pukul 17.30 Sultan mengunci  pintu kafe, teman-temannya yang lain sudah pulang satu persatu dari tadi dengan alasan menyelesaikan tugas kuliah dan organisasi mereka.

“Huuuuft..” Sultan menarik napas. Dia tau ada yang salah dengan bisnis mereka ini, meski keuntungan selalu datang berlipat-lipat, hati ini tidak begitu mendapatkan ketenangan yang sebenar-benarnya.

“Hhhh.. mungkin aku perlu berkumpul dengan mereka semua besok.”

Bersambung...
============================================================

baru belajar bikin cerita bersambung, mohon bantuannya ya bila banyak yang harus dikoreksi~ hehe ..

Rabu, 24 Juni 2015

Tentang Batasan Interaksi



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Semoga tak ada niat-niat lain selain niat untuk berbagi ilmu, berbagi kisah yang dapat mendekatkan diri kita pada Allaah sekaligus menegur kita yang sering bercimpung pada aktivitas keislaman. Ini sebuah kisah yang sungguh menakjubkan bagi saya, yang bisa mengajarkan kita tentang kesantunan, tentang interaksi yang sudah sangat jarang kita temui, kita amalkan dalam aktivitas kita.
Sebelum saya ngoceh  terlalu jauh, yuuk baca dulu, sebuah kisah dibawah ini yang saya kutip dari buku Salim A Fillah, Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan (Hal 69-71).. begini beliau tuturkan

Mari kita dengarkan bagaimana Ummu Salamah berkisah tentang santunnya ‘Utsman bin Thalhah dalam perjalanan mereka di Madinah. Sungguh, hanya  Allaah yang mengawasi mereka sepanjang 400 kilometer itu. Ya, padahal Ummu Salamah adalah salah satu wanita tercantik di Makkah, dan ‘Utsman pun tergolong tampan.
Agaknya ketundukan pandangan Utsman bin Thalhah, kemudian akhlaknya dan kesuciannya ini lah membuat Rasulullaah mencegah ‘Umar membunuhnya saat dia masih musyrik dan menjadi tawanan Badar. Bahkan kemudian, beliau menetapkan hak pemegang kunci Ka’bah padanya dan keturunannya saat penaklukan Mekkah.
Ibnu Ishaq meriwayatkan fragmen ini, dalam penggal kisah hijrah Ummu Salamah. Dan inilah yang dituturkan Ummu Salamah:
... ‘Utsman bin Thalhah bertanya padaku, “Hendak pergi kemana wahai putri Abu ‘Umayyah?”
“Aku hendak menemui suamiku di Madinah.”
“Tidak adakah seseorang yang menyertaimu?”
“Tak seorang pun, kecuali Allah dan anakku ini.”
“Demi Allah tidak selayaknya engkau dibiarkan seperti ini”, katanya. Lalu dia menuntun tali kendali unta dan membawaku berjalan dengan cepat. Demi Allah, aku tidak pernah berpergian dengan seorang laki-laki dari kalangan Arab yang lebih santun dari dirinya.
Jika tiba disuatu tempat persinggahan, dia menderumkan unta, kemudian dia menjauh dan membelakangiku agar aku turun. Apabila aku sudah turun dia menuntun untaku dan mengikatnya di sebuah pohon. Kemudian ia menyingkir dan mencari pohon lain, berteduh di bawahnya sambil tidur telentang. Jika sudah dekat waktunya untuk melanjutkan perjalanan dia mendekat ke arah untaku dan menuntunnya. Sambil agak menjauh lagi dan membelakangiku dia berkata, “Naiklah!”
Jika aku sudah naik dan duduk dengan mapan dalam sekedup, dia mendekat lagi dan menuntun tali kekang unta. Begitulah yang senantiasa ia lakukan hingga ia mengantarku sampai ke Madinah. Setelah melihat perkampungan bani ‘Amr bin ‘Auf di Quba’, dia berkata: “Suamimu ada di kampung itu. Maka masuk lah ke sana dengan barakah Allah.”
Setelah itu ia membalikkan badan dan kembali ke Mekkah.

Begitulah kisah perjalanan Ummu Salamah dalam perjalannya ke Mekkah bersama ‘Utsman bin Thalhah yang Ust Salim sebut sebagai yang mengajarkan kita mengenai akhlak seorang laki-laki sejati, yang dia tak mungkin membiarkan Ummu Salamah dalam perjalan sejauh 400 km yang hanya ada pepasir, bebatuan dan mungkin perampok selama perjalanan tersebut. Ya meski begitu, beliau dapat menempatkan dirinya hanya sebagai pengantar, agar tak ada kejadian buruk yang tidak diinginkan. Tanpa ada interaksi berlebih yang dapat mengotori hati keduanya.

Semoga dapat mengambil hikmahnya yaaa..

Sungguh rasanya malu jika mengingat sudah sangat jauh kita (terutama saya) menjalankan aktivitas ini dengan tidak  mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat mengenai gadhul bashar dan batasan interaksi seorang ikhwan-akhwat. Aktivitas yang tujuannya adalah untuk islam, sering kali kita bumbui dengan canda tawa yang berlebihan dalam interaksi syura atau mungkin interaksi pada media sosial (Yuuk Istighfar.. :’( ).

Sering kali hal ini kita anggap wajar dan menjadi biasa hanya karena alasan, tidak semua orang paham dengan hal ini harus dibatasi. Namun itu bukan alasan kawan, sering kali juga kita memperlakukan orang yang sudah paham dan belum paham dengan cara yang sama, terlalu sering bercanda. Hehe :’) karena sudah sepatutnya bagi kawan-kawan yang baru belajar, yang harus dilakukan adalah pembiasaan, bukan pemakluman. Sering kali interaksi berlebih itu dapat mengotori niat-niat kita, Naudzubillaah.. yuuk hindari yang berlebihan, seperlunya saja ^_^

Karena ingatlah, hati ini begitu rentan untuk disinggahi oleh virus yg berwarna merah jambu itu, baik itu laki-laki atau wanita yang kita anggap shaleh/shalehah jika kau intens dalam berinteraksi dengannya, virus itu akan mudah sekali hinggap dengan istilah ke-GR-an. Dari ke-GR-an itu, akan timbul pemikiran-pemikiran aneh tentang dirimu, yang kadang membuat sulit tidur, hingga fatalnya malah jadi membuat ibadah tak khusyu, dan timbul niat yang lain saat dirimu lewat ketika dia sedang melakukan suatu aktivitas. Memang sih ga semuanya berlaku seperti itu, namun itu fitrahnya manusia, begitu rentan hatinya. Maka dari itu, ayo kita sama-sama saling menjaga jika belum bisa bertanggung jawab atas perilaku kita yang menyebabkan hatinya terkotori oleh virus-virus yang kita sebarkan.

Sedikit demi sedikit ayo kita perbaiki akhlak kita, dengan mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah kita dapat. Jangan sampai kita pura-pura lupa(bersama) atas apa yang sudah kita ketahui, karena mungkin sudah terlalu ‘menikmati’ interaksi yang berlebihan ini, Naudzubillaah. Hanya Allaah yang Maha Mengetahui isi hati kita. Semoga tak ada niat yang ternoda dalam setiap aktivitas kita. Karena manusia sudah fitrahnya sering khilaf, mari saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Wallahu ‘alam.

Mohon maaf atas segala kekhilafan dalam tulisan ini, ini betuk introspeksi diri juga yang sudah terlalu sering mencairkan diri, dan mencoba mengajak teman-teman untuk saling mengingatkan, karena akan lebih mudah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik jika bersama-sama.
#Semoga dapat mengambil hikmahnya
Jazaakumullaah khairan katsiran

Referensi:
A. Fillah, Salim. 2013. Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan.Yogyakarta: Pro-U Media